Siapa Socrates Sebenarnya?
19 Sep 2012
|
Kolom
| admin islampos

INGATAN
kita dulu adalah tentang seorang tua gempal di Yunani sana yang
hidupnya hanya beredar di pasar-pasar bak gelandangan, menggetok pikiran
dan mendebat anak-anak muda tentang sesuatu yang… entah soal apa
sebenarnya. Yang lalu diadili dan mati diteguk racun oleh penguasa.
Gadfly of Athena, julukannya, Lalat Pengganggu Athena. Dan
beliau ini memang bak lalat: hinggap, menggelitik, lalu terbang… hampir
tanpa jejak. Maka sampai kini pun, tak pernah orang menemukan bahkan
sebaris pun tulisan-tulisan Socrates. Kisahnya yang ajaib, tentu, masih
dapat kita simak lewat karya-karya Plato yang banyak merekam gurunya
yang aneh ini.
Aneh, karena yah… ngapain ya ngider di jalan-jalan seperti itu? Cuma untuk berdiskusi dan menanyai orang-orang?
He is a prominent philosopher, a smart guy!
Dan apa yang dituju sebenarnya, diskusi apa, tentang apa — sebegitu
hebohnya sampai musti disidang di depan 500 juri di pengadilan Athena?
Nah, kita bisa membaca
Apologia
karya Plato. Apologia adalah rekaman dari sesi pembelaan Socrates di
pengadilan sebelum ia dihukum mati. Agak panjang, tapi saya coba
cuplikkan yang menariknya (juga mengejutkan!) So please sit down and
relax…
Socrates diadili karena tiga dakwaan: meracuni pikiran kaum muda,
tidak mempercayai dewa-dewa, dan membuat agama baru. Kita tahu Yunani,
negeri di mana Socrates hidup, adalah negeri para dewa; Zeus, Hera,
Apollo, Poseidon… dan sebagainya itu. Memang dalam terjemahan Apologia
ini, si penerjemah Benjamin Jowett menggunakan kata “gods” ketika
merujuk pada apa yang dipercayai warga Athena. Tapi ketika itu berkaitan
dengan ketuhanan pribadi Socrates sendiri, kata “God” (tanpa “s”, dan
“G” huruf besar) lah yang dipakai.
Menarik. Socrates kita kenal sebagai filsuf — tapi membaca Apologia
ini, kita akan bertemu dengan sosok yang sangat, sangat, sangat
relijius! No, I’m serious… Orang ini bukan tipe yang sekedar icip-icip
keagamaan bak orang jaman sekarang yang mengutip ayat ini dan itu… No.
He has a whole life and conduct that seems to be COMPLETELY driven by what he believes in!
Saya cuplikkan sedikit ucapannya:
Aku harus mengulang kata-kataku ini kepada siapapun yang kutemui,
baik tua ataupun muda, warga di sini atau orang asing, tapi terutama
kepada para warga karena merekalah saudara-saudara terdekatku.
Bahwa ini adalah perintah Tuhan,
dan aku yakin tak ada kebaikan yang lebih baik pada negeri ini selain
pengabdianku kepada Tuhan. Yang kulakukan hanyalah mengajak kalian
semua, para pemuda dan orang tua, untuk tak hanya memikirkan
orang-orangmu atau harta milikmu, namun yang pertama dan paling utama:
perhatikanlah nasib jiwamu! Kukatakan kepadamu bahwa kebajikan bukanlah
dengan menerima uang dan harta, tapi bahwa dari kebajikan itulah — harta
dan segala hal yang baik dari diri manusia akan muncul, baik di sisi
publik maupun individu. Inilah yang aku ajarkan.
Perintah Tuhan… hmm… Dan ketika menjelaskan tentang siapa dirinya, alasan tindakannya,
Warga Athena… bila kalian membunuhku, kalian tak kan mudah menemukan pengganggu sepertiku
yang Tuhan telah anugerahkan kepada negeri ini.
Negeri ini bak kuda ningrat yang besar, yang berjalan demikian lamban
lantaran ukuran tubuhnya. Ia mustilah diusik agar hidup kembali. Dan
akulah pengganggu itu yang Tuhan telah tempatkan di negeri ini. Dan di
sepanjang waktu, di mana-mana, aku akan selalu mendekatimu,
membangunkanmu, membujuk dan mengusikmu.
Juga di bawah ini, satu argumentasi yang cerdas:
Ketika kukatakan bahwa aku dianugrahkan Tuhan kepadamu, bukti dari
misi dan tugasku
adalah sebagai berikut: — jika aku seperti kebanyakan orang, aku
pastilah tak akan menolak kepentinganku sendiri… demi kepentinganmu, aku
datang kepadamu sebagai bapak atau saudara tua, mengajakmu kepada
kebajikan yang mulia. Jika aku memperoleh sesuatu dari situ, atau jika
aku dibayar karena ajakanku ini, tentu hal itu akan menjadi alasan yang
masuk akal atas tindakanku ini. Namun, seperti yang kalian lihat, tak
satu pun penuntutku mampu menunjukkan bahwa aku mengutip bayaran apapun,
mereka tak punya bukti. Dan aku memiliki bukti yang cukup atas
kebenaran dari apa yang kukatakan — yakni:
kemiskinanku.
Do you remember Surah Yasiin:21? “
Ikutilah orang yang tiada minta balasan kepadamu; dan mereka adalah orang-orang yang mendapat petunjuk…” Ada kesan yang cukup lugas, bahwa Socrates melakukan itu semua bukan atas kemauannya sendiri. Ia seperti… diperintah.
Dan yang berikut ini, barangkali yang paling tidak mudah dijelaskan…
Orang barangkali bertanya-tanya mengapa aku diam-diam sibuk mengurusi
orang lain tapi tak pernah maju ke depan publik dan memberi nasihat
kepada negara. Akan kuceritakan kenapa. Kalian telah sering mendengar di
banyak tempat tentang
sosok atau tanda yang senantiasa datang
kepadaku, tanda ilahiah yang Melitus (jaksa penuntut — Red) telah
mencemoohnya dalam tuduhannya. Tanda ini, yang berwujud seperti
suara-suara, pertama kali menghampiriku ketika aku masih kanak-kanak. Suara-suara ini
melarangku berbuat sesuatu, namun tak pernah menyuruhku untuk melakukan hal-hal. Inilah yang menahanku dari menjadi seorang politikus.
Socrates memilih mati, walau rekan-rekannya memaksanya untuk
menyetujui tawaran keluar dari Athena. Di akhir pembelaannya, dia
berucap: “
The hour of departure has arrived, and we go our ways — I to die, and you to live. Which is better, only God knows.”
Socrates melahirkan murid yang cerdas seperti Plato. Plato melahirkan
Aristoteles. Dan Aristoteles, kita tahu, adalah guru dari Iskandar
Zulqarnain. Yang terakhir ini, seorang suci yang bisa kita baca kisahnya
di Al-Quran.
So what do you think? Siapa sebenarnya Socrates? Lamat-lamat kita ingat, “
Dan sungguh Kami telah mengutus utusan pada tiap-tiap umat…”
(QS 16:36). Ada sekian banyak utusan, kisah 25 di antaranya direkam di
dalam Al-Quran. Selebihnya? Barangkali tak kita kenal sama sekali. Atau
bahkan tersembunyi di antara tumpukan buku… entah yang pada jaman kini
dikenal sebagai jenderal perang, matematikawan, sastrawan… atau filsuf?
Hanya Allah yang tahu.
Watung BudimanLabel: agama